oleh Layssatun Niza – Junior Akuntan
Halo sobat KJA!!
Related nggak sih? Kalau ditanya soal salah satu tantangan yang paling sering dialami pelaku UMKM, jawabannya bisa jadi bukan soal pemasaran atau mencari pelanggan. Justru salah satu yang paling sering terjadi adalah urusan keuangan, khususnya ketika uang usaha dan uang pribadi masih tercampur menjadi satu.
Mungkin terdengar sepele yaa. Apalagi kalau usaha tuh masih dijalankan sendiri dan transaksi belum terlalu banyak. Rasanya akan lebih praktis menggunakan satu rekening untuk semua. Saat butuh uang untuk keperluan pribadi, tinggal ambil dari hasil penjualan. Sebaliknya, ketika usaha membutuhkan tambahan dana, uang pribadi juga langsung digunakan untuk menutup kebutuhan usaha.
Padahal, kebiasaan seperti ini bisa membuat pemilik usaha kesulitan memahami kondisi bisnisnya sendiri.
Kenapa Sih Banyak Pelaku UMKM Masih Mencampurkan Uang Usaha dan Uang Pribadi?
Pada tahap awal merintis usaha, banyak pelaku UMKM yang menganggap seluruh uang yang dimiliki adalah uang sendiri. Hal ini berakibat pada batasan antara uang prbadi dan keuangan usaha menjadi kurang jelas. Namun lama-kelamaan kondisi ini dapat menimbulkan beberapa masalah. Uang usaha sendiri sering digunakan untuk kebutuhan pribadi, sedangkan uang pribadi juga digunakan untuk menutupi kebutuhan usaha. Akibatnya, pemilik usaha menjadi kesulitan mengetahui beberapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh.
Nah, tidak jarang juga saldo rekening terlihat cukup besar, padahal sebagian dari dana tersebut sebenarnya merupakan modal usaha yang masih harus digunakan untuk operasonal bisnis. Jika kondisi ini terus berlangsung, pemilik usaha akan semakin sulit membaca kondisi keuangan usahanya secara lebih akurat.
Lantas, apa sih yang bisa dilakukan oleh para pelaku usaha?
Memisahkan Rekening Usaha dan Rekening Pribadi
Salah satu cara paling simple untuk memisahkan keuangan usaha dan pribadi adalah dengan menggunakan rekening yang berbeda pula. Di mana dengan adanya rekening usaha, seluruh pemasukan dn pengeluaran bisnis akan lebih mudah dipantau. Pemilik usaha juga dapat melihat dengan lebih jelas berapa sih uang yang benar-benar dimiliki oleh usaha dan berapa yang jadi milik pribadi.
Hal ini, selain memudahkan pencatatan kedepannya juga akan membantu dalam mengurangi risiko penggunaan dana usaha untuk kebutuhan yang sebenarnya tidak berkaitan dengan usaha.
Pemilik Usaha Ada Baiknya Juga Digaji
Banyak sekali pelaku usaha yang masih mengambil uang usaha kapan saja jika membutuhkan dana untuk kebutuhan pribadi. Nah, sekilas memang terlihat cukup praktis kan? Tetapi kebiasaan ini sering kali membuat arus kas usaha menjadi tidak terkontrol.
Salah satu solusi yang dapat dicoba adalah menetapkan nominal tertentu sebagai gaji ataupun pengambilan pribadi secara berkala. Dengan cara inilah, kebutuhan pribadi tetap bisa terpenuhi tanpa harus terus menerus mengambil dana usaha. Selain itu, pemilik usaha juga akan lebih mudah dalam hal mengetahui berapa keuntungan yang benar-benar dihasilkan oleh bisnisnya. Keuangan usaha pun menjadi lebih stabil dan terukur.
Tidak Semua Uang yang Masuk adalah Keuntungan Lhoo
Ketika penjualan sedang sangat ramai dan income usaha menjadi naik, terkadang muncul anggapan bahwa seluruh uang tersebut adalah keuntungan. Padahal dalam sebuah usaha terdapat bebeapa komponen yang perlu dibedakan lho, seperti modal, omzet, biaya operasional, dan laba usahanya.
Misalnya saja uang hasil penjualan yang diterima hari ini belum tentu seluruhnya menjadi keuntungan. Bisa jadi sebagian masih harus digantikan untuk membeli stok barang, ongkos kirim, biaya listrik dan air, maupun biaya operasional lainnya.
Sehingga, pencatatan transaksi menjadi hal yang sangat krusial bukan? Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara konsisten, pemilik usaha bisa mengetahui kondisi bisnisnya dengan lebih jelas dan tidak hanya megandalkan perkiraan.
Baiknya Menghindari Menggunakan Uang Usaha Untuk Kebutuhan Mendadak
Siapa sih yang nggak pernah mengalami kebutuhan mendadak? Problem-nya, banyak pelaku usaha yang langsung mengambil uang usaha ketika menghadapi kondisi serupa. Padahal jika terlalu sering dilakukan, modal usaha bisa saja berkurang tanpa kita sendiri sadari. Hal ini berakibat juga pada kurangnya dana untuk membeli stok, menjalankan operasional, atau pengembangan bisnis ke depannya.
Karena itulah, ada baiknya dalam hal kebutuhan pribadi dan kebutuhan usaha sumber dananya juga berbeda. Salah satunya adalah dengan menyiapkan dana darurat pribadi sehingga ketika ada kebutuhan yang mendesak nantinya, dana usaha tetap aman dan tidak terganggu.
Memisahkan Income Usaha Nggak Hanya Soal Rekening
At the end, uang usaha dan uang pribadi yang dipisahkan bukan hanya perihal memiliki dua rekening yang berbeda namun lebih dari itu. Keuangan usaha dan pribadi yang dipisahkan ini dapat membantu pemilik usaha dalam memahami kondisi bisnisnya secara lebih jelas.
Pemilik usaha akan lebih mudah mengetahui keuntungan yang diperoleh, mengendalikan pengeluaran, menyusun rencana pengembangan usaha, hingga pengambilan keputusan yang dilakukan dengan lebih percaya diri apabilakeuangan usaha tertata dengan baik.
Sekian dulu sharing kita kali ini. Bisnis yang sehat dimulai dari keuangan yang juga sistematis dan tertata pula. Jadi, kalau sampai hari ini uang usaha dan uang pribadi masih tercampur, sudah saatnya untuk mulai memisahkannya.

Add a Comment