oleh Layssatun Niza – Junior Akuntan
Halo sobat KJA!!
Menjalankan sebuah UMKM memang bukan hal yang mudah bukan? Apalagi kalau usaha masih dijalankan sendiri, mulai dari produksi, packing, promosi, sampai dengan mengatur keuangan dilakukan secara mandiri. Karena itu, tidak heran kalau terdapat beberapa kebiasaan kecil yang sering dianggap biasa saja, padahal lama-kelamaan bisa memengaruhi perkembangan usaha.
Khususnya di Lumajang sendiri, UMKM berkembang cukup pesat dengan beragam jenis usaha, mulai dari kuliner, fashion, kerajinan, hingga usaha rumahan lainnya. Sayangnya, di balik berkembangnya UMKM tersebut, masih banyak sekali pelaku usaha yang tanpa sadar mengalami kendala yang sebenarnya cukup biasa terjadi.
Nah, kira-kira apa saja ya kesalahan UMKM yang sering dianggap sepele namun sebenarnya perlu diperhatikan? Yuk kita kupas bareng-bareng!
- Uang Usaha dan Uang Pribadi Masih Tercampur
Sadar nggak, kadang uang hasil penjualan dipakai dulu untuk kebutuhan pribadi, lalu nanti baru diganti lagi kalau ada pemasukan berikutnya? Nah, hal seperti ini memang sangat sering terjadi nih, terutama pada usaha yang masih dikelola sendiri atau skala rumahan. Awalnya mungkin rasanya biasa saja karena uangnya masih bisa diputar. Tapi lama-kelamaan malah menimbulkan kebingungan, sebenarnya usaha ini benar-benar untung atau keuangannya hanya berputar tanpa arah yang jelas.
Kalau uang usaha dan uang pribadi terus tercampur, owner biasanya jadi lebih sulit mengetahui kondisi usahanya sendiri. Bahkan nggak jarang modal usaha jadi ikutan terpakai tanpa disadari. Karena itu, salah satu langkah sederhana untuk mengatasi hal ini adalah dengan mulai memisahkan uang usaha dan uang pribadi. Tidak harus langsung mempunyai rekening khusus usaha, namun setidaknya punya tempat penyimpanan yang berbeda agar arus keuangan lebih mudah dipantau. Umumnya dalam pengelolaan keuangan juga bisa dibedakan menjadi 2 rekening bila memungkinkan. Satu rekeninng untuk kebutuhan yang fix recuring misal gaji, biaya atau sewa tempat dan rekening berikutnya untuk operasional usaha utama misal retail maka buat untuk belanja persedian atau bayar barang konsinyasi.
- Pengeluaran Masih Belum Terlalu Terarah
Pernah nggak sih merasa saat ada uang lebih, langsung muncul keinginan membeli banyak banget kebutuhan tanpa dipikir terlalu panjang? Mulai dari stok tambahan, alat baru, packaging lucu, sampai perlengkapan yang sebenarnya belum terlalu mendesak. Rasanya memang seperti investasi untuk usaha, tapi kalau semua dibeli sekaligus tanpa prioritas, pengeluaran terus berjalan sedangkan perkembangan usaha terasa begitu-begitu saja atau bahkan sampai stuck.
Nah, hal seperti ini cukup sering terjadi karena pelaku usaha merasa semua kebutuhan usaha penting. Padahal dalam usaha sendiri, ada pengeluaran yang memang perlu diprioritaskan saat ini dan ada juga yang masih dapat ditunda terlebih dahulu. Sehingga, penting banget untuk mulai membuat daftar prioritas pengeluaran. Tidak perlu langsung detail seperti pada perusahaan besar, bisa juga lho dengan mulai membedakan mana kebutuhan yang benar-benar mendukung usaha saat ini dan mana yang masih bisa direncanakan nanti. Dengan begitu, uang usaha nantinya bisa lebih terarah.
- Catatan Keuangan Usaha Masih Seadanya
Ada yang relate nggak nih, terkadang pemasukan atau pengeluaran dicatat di notes HP, sebagian lagi di room chat kita sendiri, ada yang di kertas kecil, atau bahkan ada juga yang hanya mengandalkan ingatan. Saat transaksi masih tidak teralu banak, rasanya akan aman-aman saja. Tapi ketika usaha mulai berkembang dan transaksi makin banyak, kondisi inilah yang justru akan sangat merepotkan. Owner jadi kesulitan mengingat detail uang yang masuk, pengeluaran, tok barang, hingga pesanan pelanggan.
Akibatnya, data usaha jadi tidak rapi dan cukup sulit dicek kembali ketika dibutuhkan. Bahkan kadang ada pengeluaran atau pemasukan yang terlupa dicatat. Karena itu, penting banget untuk memulai membiasayakan pencatatan sederhana dan konsisten. Tidak perlu membuat laporan keuangan yang rumit, cukup mulai dari mencatat pemasukan, pengeluaran, serta stok barang secara rutin. Pencatatan keuangan sederhana seperti ini nantinya bisa menjadi awal untuk membuat laporan keuangan yang lebih rapi lagi.
- Harga Jual Ditentukan ”Yang Penting Laku”
Ada nggak nih dari para pelaku UMKM yang pernah di fase atau lagi di fase pasang harga produk hanya untuk mengikuti kompetitornya atau sekedar asal cepat terjual? Masalah untung dipikir belakangan, yang penting pembeli mau beli dulu. Padahal, ada banyak biaya kecil yang sering luput dari perhitungan, seperti tenaga, waktu produksi, kemasan, ongkir, listrik, hingga biaya operasional lainnya. Akibatnya nih, produk memang laku, tapi keuntungannya terasa tipis banget.
Nah, kalau kondisi ini berlangsung terus-menerus, usaha jadi sulit berkembang karena keuntungan yang diperoleh sebenarnya belum optimal. Karna itu, penting banget untuk mulai menghitung biaya dasar dari setiap produk, meskipun sederhana. Dengan begitu, penentuan harga jual akan lebih realistis, tetap nyaman untuk pembeli, tapi usaha juga tetap berjalan optimal.
- Promosi Dilakukan Kalau Lagi Sempat Saja
Sobat KJA yang juga seorang owner pernah nggak, saat sedang semangat, posting feed atau konten promosi poduk bisa sangat rajin. Tapi ketika mulai sibuk produksi atau orderan meningkat, promosi malah berhenti cukup lama. Hal ini sebenarnya cukup wajar, terutama bagi UMKM yang masih mengurus semuanya sendiri. Namun kalau promosi terlalu sering berhenti, akun usaha jadi terlihat kurang aktif dan produk lebih jarang muncul di beranda atau FYP ara pembeli.
Padahal di era digital sekarang, konsistensi tuh justru lebih penting dibanding posting banyak sekaligus lalu menghilang berminggu-minggu. Karena itu, promosi tidak harus dilakukan setiap hari. Pelaku usaha bisa membuat jadwal sederhana yang make sense dan nyaman dijalankan, misalnya posting 2-3 kali seminggu. Yang penting bukan soal banyaknya postingan, tapi lebih ke konsistensinya.
Nah itu dia kesalahan-kesalahan yang sebenarnya sangat umum terjadi di UMKM, terutama pada usaha yang masih berkembang. Jadi bukan berarti usahanya buruk atau tidak bagus yaa, melainkan memang ada banyak hal yang perlu dipelajari seiring berjalannya usaha. Yang terpenting adalah bagaimana usaha terus bertumbuh dan terus improve.
Sooo, sekian dulu ya sharing kali ini. Semoga pembahasan ini nantinya bisa membantu pelaku UMKM lebih aware terhadap hal-hal kecil yang ternyata cukup berpengaruh terhadap perkembangan usaha kedepannya.

Add a Comment